Kisah Hikmah untuk Mendidik Anak dari Luqman AS

1. Nasihat Agar Tidak Musyrik kepada Allah SWT
13. Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”. (QS.Luqman [31]: 13)
Yakni syirik adalah dosa yang paling besar. Sehubungan dengan hal ini, Bukhari telah meriwayatkan hadits melalui ‘Abdullah ibn Mas’ud ra:
Artinya : 
“Al-Bukhari berkata, telah menerangkan kepada kami Qutaibah, (kata Qutaibah) telah menerangkan kepada kami Jarir, dari al-A’masy, dari Ibrahim, dari ’Alqamah, dari ‘Abdullah ibn Mas’ud ra ia berkata, Ketika turun ayat :‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman,’ hal itu sangatlah memberatkan para sahabat, mereka berkata, ‘Siapakah diantara kami yang tidak mencampuradukkan keimanannya dengan kedzaliman?.’
Maka Rasulullah SAW bersabda, 
‘Sesungguhnya bukanlah demikian (pengertiannya seperti yang kalian katakan), tidakkah kalian pernah mendengar ucapan Luqman: Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (Bukhari jilid II : 1995 : 287).
Syirik di sini diungkapkan dengan perbuatan zalim. Mereka mencampur-adukkan iman mereka dengan kezaliman, yakni dengan kemusyrikan.
Selanjutnya, Luqman mengiringinya dengan pesan lain, yaitu agar anaknya menyembah Allah SWT semata dan berbakti kepada kedua orang tua sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya, (QS.al-Isra [17]: 23)
Artinya : “Dan Tuhanmu Telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 284).
Dan memang Allah SWT sering menggandingkan keduanya dalam al-Qur’an. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 428-429).
14. Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun [*]. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu. (QS.Luqman [31]: 14) 

* Maksudnya:   Selambat-lambat waktu menyapih ialah setelah anak berumur dua tahun

15. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS.Luqman [31]: 15) 
***    ***   ***    ***    ***
2. Nasihat Agar Memegang Teguh Ketauhidan
16. (Luqman berkata): “Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[*] lagi Maha Mengetahui (QS.Luqman [31]: 16)
*Yang dimaksud dengan Allah Maha Halus ialah ilmu Allah itu meliputi segala sesuatu bagaimana kecilnya.
Seandainya amal sekecil dzarrah (biji kecil) itu dibentengi dan ditutupi berada dalam batu besar yang membisu atau hilang dan lenyap di kawasan langit dan bumi, maka sesungguhnya Allah SWT pasti akan membalasnya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah pasti akan membalasnya. Demikianlah karena sesungguhnya Allah, tiada sesuatu pun yang tersembunyi bagi-Nya dan tiada sebutir dzarrah pun, baik yang ada di langit maupun di bumi, terhalang dari penglihatan-Nya. Oleh sebab itulah disebutkan oleh firman-Nya;
Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.” (QS.Luqman [31]:13)
  • Lathiifun, Maha Halus pengetahuan-Nya, sehingga segala sesuatu tiada yang tersembunyi betapa pun lembut dan halusnya.
  • Khabiirun, Maha Mengetahui langkah-langkah semut sekecil apa pun yang ada di kegelapan malam yang sangat pekat.
(Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 428-429).
Jamaal ‘Abdul Rahman mengutip pemaparan al-Qurthubi, diceritakan bahwa anak Luqman al-Hakim bertanya kepada ayahnya tentang sebutir biji yang jatuh ke dasar laut, apakah Allah mengetahuinya? Maka Lukman menjawabnya dengan mengulangi jawaban semula yang disebutkan dalam firman-Nya,(QS.Luqman [31]: 16)
***    ***   ***    ***    ***
17. Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). (QS.Luqman [31]: 17)
3) Al-Hakim terus-menerus memberikan pengarahan kepada anaknya dalam pesan selanjutnya.
Artinya : Hai anakku, Dirikanlah shalat….” (QS.Luqman [31]: 17)
‘Aqimish-shalaata, dirikanlah shalat, lengkap dengan batasan-batasan, fardhu-fardhu, dan waktu-waktunya. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).
……………………………………………………………………………………………………………
 
4) Pesan Luqman al-Hakim yang keempat adalah agar anaknya memiliki keberanian untuk memerintah manusia untuk berbuat baik. Firman Allah SWT,
Artinya : “…dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik….”  (QS.Luqman [31]: 17)
……………………………………………………………………………………………………………
 
5) Pesan Lukman al-Hakim yang kelima adalah agar anaknya memiliki keberanian untuk mencegah orang-orang yang berada di sekitarnya berbuat kemungkaran. Firman Allah SWT,
Artinya :“…dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar….” (QS.Luqman [31]: 17)
Terhadap pesan Luqman al-Hakim yang keempat dan kelima kepada anaknya di atas,
Ibnu Katsir memberikan keterangan, Wa’mur bi’l-ma’ruufi wanha ‘ani’l-mungkar, perintahkanlah perkara yang baik dan cegahlah perkara yang munkar menurut batas kemampuan dan jerih payahmu. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).
……………………………………………………………………………………………………………
 
6) Pesan Lukman al-Hakim yang keenam adalah agar anaknya bersabar terhadap musibah yang menimpa. Firman Allah SWT,
Artinya : “…dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (QS.Luqman [31]: 17)
Karena sesungguhnya untuk merealisasikan amar ma’ruf dan nahyi mungkar, pelakunya pasti akan mendapat gangguan dari orang lain. Oleh karena itulah, dalam pesan selanjutnya Lukman memerintahkan kepada anaknya untuk bersabar.
Artinya : “… Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” Firman Allah SWT, (QS.Luqman [31]: 17)
Yakni bersikap sabar dalam menghadapi gangguan manusia termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah SWT. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).
Menurut pendapat lain, Luqman memerintahkan kepada anaknya bersabar dalam menghadapi berbagai macam kesulitan hidup di dunia, seperti berbagai macam penyakit dan sebagainya, dan tidak sampai ketidak sabarannya menghadapi hal tersebut akan menjerumuskannya ke dalam perbuatan durhaka terhadap Allah SWT. pendapat ini cukup baik karena pengertiannya bersifat menyeluruh. Demikianlah menurut al-Qurthubi dalam kitab tafsirnya. Menurut makna lahiriahnya, hanya Allah yang lebih mengetahui, bahwa firman-Nya;
Artinya : “… Sesungguhnya yang demikian itu….” (QS.Luqman [31]: 17)
Isyarat yang terkandung di dalamnya menunjukan kepada sikap mengerjakan shalat, menunaikan amaar ma’ruf dan nahyi mungkar, serta bersabar menghadapi ganguan dan musibah, semuanya termasuk hal-hal yang diwajibkan oleh Allah SWT. (Jamaal ‘Abdul Rahman : 2005 : 342-343).
 ***    ***   ***    ***    ***
18. Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS.Luqman [31]: 18)
7) Pesan Lukman al-Hakim yang ketujuh adalah agar anaknya jangan memalingkan muka dari manusia karena sombong, merasa diri paling tinggi derajatnya dari orang lain.
Artinya : “Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)….” (QS.Luqman [31]: 18)
Ash-Sha’r artinya berpaling. Makna asalnya adalah suatu penyakit yang menyerang tengkuk unta atau bagian kepalanya sehingga persendian lehernya terlepas dari kepalanya, kemudian diserupakanlah dengan seorang lelaki yang bersikap sombong. (Sayyid Qutb : 1992 : 2790).
Ibnu Abbas ra menafsirkan firman Allah SWT, Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong)….” yakni janganlah engkau bersikap sombong dengan meremehkan hamba-hamba Allah dan memalingkan mukamu dari mereka bila mereka berbicara denganmu. (Ath-Thabari jilid XXI : 1988 : 74).
Makna yang dimaksud ialah hadapkanlah wajahmu ke arah mereka dengan penampilan yang simpatik dan menawan. Apabila orang yang paling muda di antara mereka berbicara denganmu, dengarkanlah ucapannya sampai dia menghentikan penbicaraannya. Demikianlah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. (Jamaal ‘Abdul Rahman : 2005 : 344).
……………………………………………………………………………………………………………
 
8) Pesan Lukman al-Hakim yang kedelapan adalah agar anaknya tidak angkuh dalam menjalani hidup.
Artinya : “…dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS.Luqman [31]: 18)
Berjalan di muka bumi dengan angkuh, ialah cara berjalan dengan langkah yang angkuh dan sombong dan enggan untuk bercampur gaul dengan orang lain (disebabkan kesombongannya itu). Cara berjalan yang maupun Khalik (Allah SWT) atapun makhluk (manusia) sama-sama tidak menyukainya. Cara berjalan yang sombong adalah indikasi akan lupa dirinya seorang hamba kepada Dzat Allah SWT (yang hanya Dia yang berhak untuk sombong). (Sayyid Qutb : 1992 : 2790).
Manusia menjalani hidup diantaranya dengan berjalan menelusuri relung-relung kehidupan setiap harinya. Lukman al-Hakim mengajarkan kepada anaknya untuk tetap tawadhu’ (rendah hati) dan tidak takabbur (sombong) diantanya dengan menekankan agar dalam cara berjalan tidak berjalan dengan angkuh dan sombong.
……………………………………………………………………………………………………………
19. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[*] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.
*  Maksudnya: ketika kamu berjalan, janganlah terlampau cepat dan jangan pula terlalu lambat.
Pesan Luqman al-Hakim yang kesembilan adalah agar anaknya menyederhanakan cara berjalan. Nasihat kesembilan ini berserta nasihat ketujuhkedelapan dankesepuluh adalah sama-sama menekankan untuk tidak berlaku sombong dan menanamkan sifat tawadhu’ kepada anak.
Setelah Luqman al-Hakim memperingatkan anaknya agar waspada terhadap akhlaq yang tercela dengan nasihat ketujuh dan kedelapannya, dia lalu menggambarkan kepadanya akhlaq mulia yang harus dikenakannya.
……………………………………………………………………………………………………………
 
9)  “Dan sederhanalah kamu dalam berjalan….” (QS.Luqman [31]: 19)
Waqsid fii masyika, Yakni berjalanlah dengan cara jalan yang pertengahan, tidak dengan langkah yang lambat dan tidak pula dengan langkah yang terlalu cepat, namun dengan langkah yang pertengahan antara lambat dan cepat. (Ibnu Katsir jilid III : 1990 : 430).
Nasihat Luqman al-Hakim yang kesembilan ini adalah sesuai dengan salah satu sifat Ibaadu’r-Rahmaan (hamba-hamba yang baik dari Tuhan yang Maha Penyayang). Firman Allah SWT;
Artinya : “Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (Al-Qur’an dan Terjemah Depag RI : 2005 : 365).
……………………………………………………………………………………………………………
 
10) Nasihat Luqman yang terakhir kepada anaknya yang terdapat dalam Qur’an surahLuqman adalah agar anaknya melunakkan suara dalam berbicara dengan orang lain.
Artinya : “…Dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” (QS.Luqman [31]: 19)
Menurut Ibnu abbas ra, waghdud min shautik, yakni rendahkanlah suarmu dan janganlah bersuara dengan keras (tanpa alasan yang baik). (Al-Fairuzabadi : tt : 345).
Menurut al-Maraghi, waghdud min shautik, yakni kurangilah dari nada suara dan ringkaslah dalam berbicara, dan janganlah meninggikan suaramu ketika tidak ada keperluan apapun untuk meninggikannya, karena hal itu adalah tindakan yang dipaksakan oleh yang berbicara dan dapat mengganggu diri dan pemahaman orang lain. (Al-Maraghi : 1974 : 86).
Posted in Religi | Leave a comment

Sejarah Perang Badar

Miqdad bin Amr dikenal sebagai fursan atau penunggang kuda  pertama dalam sejarah Islam. Penunggang kuda bukan tugas biasa2 saja. Fursan adalah pasukan yang berada digaris depan, dan menjadi target empuk sasaran panah lawan, dialah daya dobrak pasukan.  Dalam perang badar, hanya tiga saja penunggang kuda ! yang lainnya berjalan kaki dan mengendarai onta. Miqdad bin Amr termasuk yang pertama masuk islam, dia ada dalam urutan ke tujuh mereka yang gagah memproklamirkan keislamannya.

Perannya dalam perang Badr, membuat Ibnu Mas’ud terkagum seraya menyatakan : posisi Miqdad saat itu lebih aku cintai dari dunia seisinya. Perang badar ujian berat kaum muslimin yg masih sedikit, tak terduga menyambut musuh yg begitu kuat tertata, pilihan berat ada dihadapan. Maka Rasul yang mulia pun membuka majelis musyawarah, agar yang ragu menjadi kuat, yang takut menjadi semangat, semua bebas berpendapat. Setelah Abu bakar dan Umar mengungkapkan persetujuannya untuk terus mendukung Rasul bergerak maju, giliran Miqdad mengajukan pendapatnya.

Ucapan Miqdad melenggang melintasi sejarah, terngiang begitu gagah melibas gundah dan ragu di dada sebagian besar prajurit badar. Miqdad berteriak lantang :

Ya Rasulullah, jangan ragu!
Laksanakan apa yang dititahkan Allah. Kami akan bersamamu.
Demi Allah kami tidak akan berkata spt yg dikatakan Bani Israel kpd Musa, Pergilah kamu bersama Tuhanmu & berperanglah! Kami duduk2 di sini.
Tetapi kami akan mengatakan kepadamu, ‘Pergilah bersama Tuhanmu dan berperanglah! Kami akan berperang di sampingmu.’
Demi yang telah mengutusmu dengan membawa kebenaran! Seandainya engkau membawa kami menerjuni lautan lumpur, kami akan patuh.
Kami akan berjuang bersamamu dengan gagah berani hingga mencapai tujuan, dan kami akan bertempur di sebelah kanan dan di sebelah kirmu, di bagian depan dan di bagian belakangmu, sampai Allah memberimu kemenangan.”

Ucapan tersebut memotivasi sahabat lainnya, membakar semangat untuk total berjuang, membuat Saad bin Muadz dari Anshor terpana, dan berucap lantang memotivasi kaumnya. Bahkan Rasulullah SAW pun tersenyum dan mendoakannya. Dilain kesempatan sabda beliau begitu menggugah kita tentang sosok Miqdad : “Tuhanku memerintahkanku untuk mencintaimu, dan memberitahukan kepadaku bahwa Dia mencintaimu !” .

Maka Pasukan badar pun bergejolak hebat, siap menerjang pasukan kekufuran. Miqdad sang penunggang kuda mendobrak di barisan depan. Motivasi Miqdad bin Amr melecuti semangat mereka bak ribuan cambuk dihentakkan bersamaan. Tiga ratus pasukan Tauhid pada hari itu mencatatkan kemenangan bersejarah, yang mengundang keridhoan abadi dari Robbul Izzati.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

HAJI WADA RASULULLAH SAW

Hari itu Hari Tarwiyah 10 Hijriyah. Saat itu Rasulullah Saw. pergi ke Mina dan melaksanakan shalat zuhur, asar, magrib, isya, dan subuh di sana. Seusai menanti beberapa seat hingga matahari terbit, beliau lantas melanjutkan perjalanan hingga tiba di Arafah. Tenda-tenda waktu itu telah didirikan di sana. Beliau pun masuk tenda yang disiapkan bagi beliau.

Setelah matahari tergelincir, Rasulullah Saw. meminta agar Al-Qashwa’, unta beliau, didatangkan. Beliau kemudian menungganginya hingga tiba di tengah Padang Arafah. Di sana telah berkumpul sekitar 124.000 kaum Muslim. Beliau kemudian berdiri di hadapan mereka me¬nyampaikan khutbah haji terakhir beliau yang lebih dikenal dengan sebutan haji wada’:

“Wahai manusia! Dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tidak dapat lagi bertemu muka dengan kamu semua di tempat ini. Tahukah kamu semua, hari apakah ini? (Beliau menjawab sendiri). Inilah Hari Nahr, hari kurban yang suci.Tahukah kamu bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah kota yang suci. Karena itu, aku permaklumkan kepada kalian semua bahwa darah dan nyawa kalian, harts benda kalian dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kalian sampai kalian bertemu dengan Tuhanmu kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tidak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian!

Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa yang memegang amanah di tangannya, maka hendaklah ia bayarkan kepada yang empunya. Dan, sesungguhnya riba jahiliah adalah batil. Dan awal riba yang pertama sekali kuberantas adalah riba yang dilakukan pamanku sendiri, Al-‘Abbas bin’Abdul-Muththalib.

Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan jahiliah, dan penuntutan darah cara jahiliah. Yang pertama kali kuhapuskan adalah tuntutan darah ‘Amir bin Al-Harits.

Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumimu yang suci ini. Tetapi, ia bangga jika kamu dapat menaatinya walau dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Karena itu, waspadalah kalian atasnya! Wahai manusia! Sesungguhnya zaman itu beredar sejakAllah menjadikan langit dan bumi.

Wahai manusia! Sesungguhnya bagi kaum wanita (istri kalian) itu ada hak-hakyang harus kalian penuhi, dan bagi kalian juga ada hak-hak yang harus dipenuhi istri itu. Yaitu, mereka tidak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kalian sendiri, dan mereka tak boleh membawa orang lain yang tidak kalian sukai ke rumah kalian, kecuali setelah mendapat izin dari kalian terlebih dahulu. Karena itu, sekiranya kaum wanita itu melanggar ketentuan-ketentuan demikian, sesungguhnya Allah telah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka, dan kalian boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu. Tetapi,jika mereka berhenti dan tunduk kepada kalian, menjadi kewajiban kalianlah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, kaum hawa adalah makhluk yang lemah di samping kalian. Mereka tidak berkuasa. Kalian telah membawa mereka dengan suatu amanah dari Tuhan dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah tentang urusan wanita dan terimalah wasiat ini untuk bergaul baik dengan mereka.

Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu, yang jika kalian memeganginya erat-erat, niscaya kalian tidak akan sesat selamanya. Yaitu: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia! Dengarkanlah baik-baik spa yang kuucapkan kepada kalian, niscaya kalian bahagia untuk selamanya dalam hidupmu!

Wahai manusia! Kalian hendaklah mengerti bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, bagi tiap-tiap pribadi di antara kalian terlarang keras mengambil harta saudaranya, kecuali dengan izin hati yang ikhlas.

Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah saksikanlah!Janganlah kalian, setelah aku meninggal nanti, kembali kepada kekafiran, yang sebagian kalian mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Sebab, bukankah telah kutinggalkan untuk kalian pedoman yang benar, yang jika kalian mengambilnya sebagai pegangan dan lentera kehidupan kalian, tentu kalian tidak akan sesat, yakni Kitab Allah (Al Quran).Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling bertakwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa.

Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Allah, saksikanlah!

Karena itu, siapa saja yang hadir di antara kalian di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan wasiat ini kepada mereka yang tidak hadir!”

*******
Tak lama setelah Rasulullah Saw. menyampaikan khutbah tersebut, turunlah firman Allah:”Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan Islam telah Kuridhai menjadi agama bagi kalian” (QS AI-Ma’idah [5]: 3).Mendengar firman Allah tersebut, ‘Umar bin Al-Khaththab pun meneteskan air mata. Melihat hal itu, dia pun dita¬nya, “‘Umar! Mengapa engkau menangis? Bukankah engkau ini jarang sekali menangis?”

“Karena aku tahu, selepas kesempurnaan hanya ada kekurangan,” jawab Umar. Ia telah merasakan suasana perpisahan (wada’) terakhir dengan Rasulullah SAW yang sangat dicintainya.

(Diceritakan kembali dari sebuah hadis yang dituturkan oleh Al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Umar dan sebuah kisah yang dituturkan oleh Ibnu Hisyam dalam Al-Sirah Al-Nabawiyyah dalam “Teladan indah Rasullulah dalam Ibadah”, Ahmad Rofi ‘Usmani)
Posted in Religi | Leave a comment

KISAH ABRAHAH DAN TENTARA BERGAJAH

Peristiwa ini bukan cerita mistik bertebaran dalam sejarah bangsa Arab tempo dulu. Ini bukan dongeng atau tahayyul belaka. Seandainya bangsa Arab tidak melihat burung Ababil menghancurkan Abrahah dan bala tentaranya atas izin Allah SWT, dengan kerikil panas dari neraka yang membara. Maka ketika jika ada seseorang menceritakan persitiwa itu kepada mereka, pasti mereka akan mengatakan orang itu gila. Mereka akan mengejek, sebagimana mereka mengejek Baginda Nabi Muhammad SAW, ketika beliau menceritakan bahwa dirinya telah isra’ dan mi’raj.

Pada abad keenam sekitar tahun 571 Masehi, saat itu Yaman dikuasai oleh seorang raja Kristen bernama Negus yang berhasil mengusir bangsa Yahudi dari negerinya. Seorang menterinya yang bernama Abrahah bin Al-Shobaah menemukan bahwa setiap tahunnya orang-orang dari berbagai belahan bumi bergegas dan berduyun-duyun pergi ke Kabah di Mekah untuk menunaikan haji

Diperintahkannya arsitek dan ahli bangunan terbaik untuk membangun Al-Qalies, sebuah geraja yang sangat besar dan indah di Kota San’a. Gereja ini dipersembahkan kepada Raja Najasyi serta merupakan bukti kuat keinginan Abrahah agar orang-orang melupakan Ka’bah.
Abrahah telah bersumpah untuk menghancurkan Ka’bah. Berangkatlah Abrahah ke Makkah beserta tentaranya dengan menunggangi gajah. Abrahah memimpin pasukan dengan menunggangi seekor gajah yang santa besar dan gagah. Gajah tersebut adalah hadiah dari Raja Najasyi karena Abrahah sudah membuatkan sebuah gereja yang indah
Abdul Muthalib bin Hasyim yang merupakan salah seorang pemuka Kaum Quraisy pun ‘pasrah’ (Dia bilang Ka’bah adalah milik Allah SWT jadi Allah SWT yang akan menjaganya), dia hanya meminta kepada Abrahah 200 ontanya dikembalikan kepadanya. Dia yakin benar, bahwa Allah sendiri yang akan menjaga rumahNya, Baitullah. Dan benarlah, Allah SWT mengirimkan pasukan burung Ababil, yang merontokkan pasukan Abrahah laksana dedaunan yang dimakan ulat.

Surat Al Fiil (105) ini terdiri atas 5 ayat, termasuk golongan surat-surat Makkiyyah, diturunkan sesudah surat Al Kaafiruun. Nama “Al Fiil” diambil dari kata “Al Fiil” yang terdapat pada ayat pertama surat ini, artinya “gajah”.

AL FIIL (GAJAH) Surat ke 105 : 5 ayat

Qur’an menyebut peristiwa yang menewaskan Abrahah dan pasukannya dalam Surat Al-Fil. Peristiwa ini terjadi pada tahun Nabi Muhammad s.a.w. dilahirkan. Pendapat umum menyebut “Toiron Ababil” sebagai “Burung Ababil” atau “Burung yang berbondong-bondong”. Buku “Sejarah Hidup Muhammad” yang ditulis Muhammad Husain Haekal mengemukakannya sebagai wabah kuman cacar (wabah Sampar atau Anthrax – yang menewaskan sepertiga warga Eropa dan Timur Tengah di abad 14). Namun ada pula analisa yang menyebut pada tahun-tahun itu memang terjadi hujan meteor, hujan batu panas yang berjatuhan atau ‘terbang’ dari langit. Wallahua’lam.

Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

  1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah?
  2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia?,
  3. Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong,
  4. yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
  5. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).
Posted in Uncategorized | Leave a comment

Jangan Sembarangan Meniru Suatu Kaum

Mengikuti cara berpakaian Nabi saw atau meneladaninya dalam hal apa pun menjadikan seseorang termasuk kedalam kelompok beliau dan merupakan sumber rahmat,terutama pada masa sekarang ini. Nabi saw bersabda: “Barang siapa meniru suatu kaum, dia termasuk kelompok mereka.” Salah satu anjuran hadis tersebut adalah untuk tidak mengikuti cara-cara yang tak-islami.

Umar RA meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:”Janganlah berpakaian seperti orang-orang yang tidak beriman “.

Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Hari Kiamat tidak akan datang hingga umatku mengikuti kebiasaan bangsa-bangsa sebelum mereka, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Nabi ditanya, “Ya Rasulullah, bahkan juga akan mengikuti kebiasaan orang-orang Persia dan Romawi?” Beliau menjawab,“Siapa lagi kalau bukan mereka?”

Di sini Nabi Muhammad SAW menunjukkan bahwa orang-orang Islam akan meniru kebiasaan orang-orang kafir. Bangsa Romawi berarti negara-negara Barat,sementara bangsa Persia berarti negara-negara Timur. Artinya, orang-orang Islam pada akhir zaman akan mengadopsi kebudayaan dan peradaban nonmuslim, baik dari Timur maupun dari Barat.

Orang-orang Islam dewasa ini meniru semua yang berasal dari orang-orang nonmuslim, entah pakaian, gaya hidup,hiburan, nilai budaya, ataupun ideologi. Mereka menjadikannya sebagai prioritas tertinggi dan tujuan akhir, sambil mengabaikan cara-cara yang diajarkan oleh Al Quran dan Sunnah. Seperti yang dapat dilihat di stasiun-stasiun TV kabel, kebanyakan penyiar ataupun pembawa acara talk show kentara berpenampilan tak-Islami yang bisa membangkitkan birahi.

Meniru gaya orang-orang kafir, menggunakan hiasan wajah yang berlebihan dan mengenakan pakaian yang terbuka. Mereka mengadopsi setiap gaya dan perilaku yang memancing nafsu rendahan, mengabaikan sunnah, dan mengikuti budaya orang-orang nonmuslim, yang menjauhkan orang-orang Islam dari Nabi mereka.

Pada satu sisi, hadis, “Barang siapa meniru suatu kaum, dia termasuk kelompok mereka,” Merupakan peringatan terhadap orang-orang Islam agar tidak mengikuti perilaku nonmuslim, dan bersikap waspada agar tidak terjerumus mengikuti mereka. Fenomena ini merupakan salah satu tanda akhir zaman. Dan untuk menekankan bahwa itu pasti terjadi, Imam al-Bukhârî menamai salah satu bab kitabnya dengan ungkapan hadist tersebut.

Nabi saw. bersabda: “Kalian benar-benar akan mengikuti kebiasan orang-orang terdahulu. Artinya, umat Islam akan menjalankan kebiasaan orang-orang nonmuslim 20 atau 30 tahun yang lalu dan mulai menyetujui mereka. Orang-orang Islam dewasa ini, setelah menyaksikan gaya hidup orang-orang nonmuslim yang menggoda, tanpa pikir panjang segera meniru mereka. Masyarakat dari semua bangsa, termasuk masyarakat muslim, kini sudah mengikuti gaya dan jalan hidup masyarakat modern, baik dalam gaya-tak-sopan dalam berpakaian, potongan rambut, musik (rap cabul dan heavy metal), maupun seringnya ke bar, tempat disko, klub malam, teater, dan bioskop film porno.

Tak ada agama yang memperkenankan hal-hal itu, termasuk Islam. Kendati demikian, orang-orang Islam dan pemeluk agama lain tetap saja mengikuti gaya hidup yang tak diterima oleh agama tersebut.

Tsaubân meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda: “Hari Kiamat tidak akan datang hingga suku-suku dalam umatku mengikuti orang-orang musyrik dalam segala hal. “Suku-suku” (qabâ’il) dalam hadis tersebut menunjukkan sejumlah besar orang, yang pada masa modern ini sebanding dengan sebuah bangsa atau negara. Di antara tanda akhir zaman adalah bahwa orang-orang Islam akan mengikuti orang-orang kafir dalam semua aspek kehidupan. Apa pun yang mereka perlihatkan atau ucapkan, orang-orang Islam akan mengikutinya karena menyangka bahwa mereka mengikuti peradaban terbaik yang pernah ditawarkan, dan mengabaikan petunjuk Islam.

Peradaban sebuah bangsa diukur dari standar etika dan kemuliaan akhlaknya. Bangsa yang baik ialah bangsa yang menjaga kemuliaan perilaku dan moral. Dan ketika semua ini lenyap, penyimpangan merajalela, maka rusaklah masyarakat. Abû Mâlik al-Anshârî meriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:”Akan muncul dari kalangan umatku, orang-orang yang menghalalkan perzinaan, sutra, minuman memabukkan, dan musik asusila.

Nabi saw. menggambarkan kondisi kebanyakan masyarakat Islam dewasa ini, yang mempertontonkan perilaku tak bermoral dengan melakukan perbuatan yang terlarang. Yang disebutkan pertama adalah orang-orang di kalangan umat Islam yang membolehkan perzinaan dan pelacuran. Contohnya adalah fenomena sejumlah gerakan orang-orang Islam yang mengklaim bahwa mereka berada dalam kondisi perang dengan orang-orang nonmuslim. Dengan menggunakan landasan keliru tersebut, mereka memutarbalikkan hukum Islam agar sesuai dengan kemauan mereka, dengan menyatakan bahwa mereka diperbolehkan berhubungan seksual dengan nonmuslim.

Di samping itu ada juga pemimpin-pemimpin Islam dan sebuah negara muslim yang membenarkan pernikahan kontrak atau temporer (mut‘ah). Belakangan ini, disebuah majalah berbahasa Arab terdapat sebuah fatwa seorang mufti dari suatu negara muslim besar yang menyatakan bahwa nikah kontrak dibenarkan oleh syariat. Kecenderungan menghalalkan hubungan yang diharamkan adalah bukti dari pernyataan Nabi saw.bahwa mereka akan menghalalkan perzinaan.

Laki-laki dan perempuan bebas berbaur dan melakukan hubungan di luar nikah kini menjadi standar norma yang diterima oleh lapisan tertentu dalam masyarakat Islam. Menonton film yang memperlihatkan orang-orang telanjang juga sudah menjadi pemandangan umum. Pelacuran terjadi di berbagai tempat di negara Islam. Semua ini merupakan contoh bagaimana orang-orang Islam menganggap perzinaan sebagai hal yang wajar dan alami.

Hadis tersebut juga menyinggung tentang laki-laki yang memakai sutra, yang dalam ajaran Islam hanya diperkenankan untuk perempuan. Laki-laki muslim diberbagai negara kini sudah mengenakan pakaian sutra tanpa segan-segan, seolah itu tidaklah dilarang. Banyak orang Islam juga telah mengonsumsi minuman memabukkan, seperti alkohol atau narkoba. Dalam hadist lain, Nabi saw. menyebutkan ghinâ al-fâhisy—lagu cabul. Musik yang membangkitkan syahwat sudah menjadi fenomena umum, bahkan di negeri Muslim sekalipun.

Di tempat-tempat disko dan klub malam yang modern, kita menyaksikan sejumlah besar orang Islam mengenakan pakaian sutra, menikmati musik porno, dan mengonsumsi alkohol serta obat-obatan terlarang. Laki-laki dan perempuan yang sedang mabuk itu mengenakan pakaian yang menggoda dan berbaur dengan bebas, sehingga mudah mengundang perzinaan. Tanpa pikir panjang, orang-orang Islam hanyut dalam gaya hidup semacam itu dan mengabaikan aturan-aturan agama. Mereka bahkan mencoba mengubah pemahaman agama untuk mencari pembenaran terhadap nafsu murahan mereka.

Penyimpangan-penyimpangan semacam itu bisa dilihat mata di tempat-tempat pertemuan dan konferensi keagamaan.  Perilaku di kalangan umat Islam ini merupakan kejadian yang telah diramalkan oleh Nabi saw. empat belas abad yang lalu, dan merupakan salah satu tanda paling nyata yang menunjukkan bahwa akhir zaman sudah di depan mata. Semoga Allah swt melindungi kita semua dari bahaya akhir zaman ini.

Posted in Budaya, Religi | Leave a comment

Berita Penting Bagi Kita Semua!!!

Kepada saudaraku kaum muslimin dan muslimat yang sama-sama mengharap Ridho Allah Subhanahu wa ta’ala.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman  “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” QS.Al Hujurat (49) :10

Dalam kehidupan yang kita jalani ini, kita jarang sadar bahwasanya perubahan-perubahan terjadi cepat sekali dalam diri dan lingkungan kita, perubahan tersebut akan dengan mudah terlihat jika yang melihat adalah orang lain diluar kita,atau luar lingkungan kita. Orang yang makan sambal trasi disuatu ruangan tetutup terkadang tidak sadar bahwa aroma ruangan dimana ia makan telah berubah menjadi beraroma trasi. Orang yang makan trasi ketika menghirup udara di sekitarnya akan merasa bahwa aroma udara biasa-biasa saja atau tidak ada perubahan. Namun apa yang terjadi ketika seseorang dari luar datang ke dalam ruangan tersebut, dengan hidungnya yang normal ia merasakan aroma trasi tercium sangat pekat.

Hal ini menunjukan betapa kita memerlukan orang lain untuk mengingatkan kita terus menerus, lagi dan lagi.

Lantas bagaimana cara untuk mendapatkan orang-orang yang mau mengingatkan kita?

Sebelumnya kita harus sadari bahwa tugas kita adalah saling mengingatkan, maka janganlah menunggu, mulailah latihan untuk menjadi bagian orang yang mengingatkan dimana saja, di rumah, di kantor, di telpon bahkan internet.

Kepada kaum Muslimin dan Muslimat yang dimuliakan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, kita ini mungkin bukan saudara kandung, dan mungkin belum pernah bertemu sebelumnya, tapi kita ini hakikatnya adalah bersaudara , yang sama-sama mempunyai kalimat yang agung yaitu kalimat “Laa ilaha illallah, Muhammadu Rasulullah” dengan ini kita dipersaudarakan Allah Subhanahu wa Ta’ala di dunia dan di akhirat. Sebagai saudara kita sama-sama punya hak dan sama-sama punya kewajiban untuk saling mendoakan ketika kita berjauhan (Allahumaghfir lil mu’minina wal mu’minat wal muslimina wal muslimat al ahyai minhum wal amwat) dan saling silaturahim jika berdekatan (panjangkan umur dan lapangkan rezeki)  . Dan yang lebih penting lagi kita sebagai saudara sesama muslim adalah saling ingat mengingatkan, terutama tentang apa? yaitu tentang perkara agama, tentang perkara akhirat, tentang bahwasanya  kita di dunia ini hanyalah sangat-sangat sementara, sedangkan saat ini juga kita di dunia ini sedang berjalan menuju akhirat yang kekal abadi selama-lamanya. Bagaimana di dunia kita butuh bekal dan di akhiratpun kita butuh bekal, di dunia yang sementara kita hari-hari mengusahakannya, maka bagaimana kita persiapkan juga bekal kita untuk akhirat yang selama-lamanya.

Bagaimana usaha keduniaan kita ini dapat membawa kita selamat di dunia yang sementara dan akhirat yang selama-lamanya.

Bekal kita adalah iman dan amal shaleh, sedangkan ilmu – ilmu yang kita pelajari , akan mampu menjadi bekal apabila telah wujud menjadi amal shaleh, sisa-sisa ilmu yang tidak diamalkan akan menjadi sekedar pengetahuan, fitnah, dan penyesalan bagi kita di alam akhirat yang selama-lamanya.

Saudaraku yang sama-sama mengharapkan ridho Allah Subhanahu wa Ta’ala, dalam sautu hadits disebutkan:

Dari Anas Radhiyallahu ‘anhu ia berkata : Nabi Shallalahu’alayhi wa sallam bersabda : “Ya Allah sebenarnya tidak ada kehidupan yang sesungguhnya kecuali kehidupan akhirat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Anas Radhiyallahu’anhu ia berkata : Rasulullahi shallallahu ‘alayhi wa sallam bersabda : “Pada hari kiamat dihadirkan orang yang paling senang sewatu di dunia. Ia termasuk caon penghuni neraka. Kemudian ia di masukan sebentar ke dalam neraka , dan ditanya : Wahai anak Adam , apakah kamu merasakan kesenangan, dan apakah kamu pernah merasakan kenikmatan?” Ia menjawab : “Demi Allah tidak ada wahai Tuhanku.” Lalu didatangkan juga orang yang paling menderita sewaktu hidup di dunia. Ia termasuk penghuni surga, kemudian Ia dimasukan sebentar ke dalam surga dan ditanya “Wahai anak Adam, apakah kamu merasakan penderitaan?” Ia menjawab : Demi Allah, saya tidak merasakan adanya kesedihan.” (HR.Muslim)

Dari Al-Mustaurid Syaddad Radhiyallahu’anhu, ia berkata : Rasulullahi Shallallahu’alayhi wa sallam bersabda : “Perbandingan antara dunia dengan akhirat , seperti seseorang di antara kalian yang memasukan jari-jarinya kedalam lautan, maka perhatikanlah apa yang dapat ia peroleh?” (HR.Muslim)

Dari Jabir radhiyallahu’anhu ia berkata : Rasulullahi Shallallahu’alayhi wa sallam berjalan-jalan di pasar dikelilingi para  shahabat, kemudian beliau melewati bangkai seekor anak kambing yang telinganya kecil dan beliau mengangkat telingannya, seraya bertanya : “Siapakah di antara kalian yang suka membeli bangkai ini dengan harga satu dirham?” Mereka menjawab : “maka semua tidak ada yang menyukainya, buat apakah bangkai itu?” Beliau bertanya lagi : “Apakah kalian suka andaikan bangkai ini diberikan kepada kalian?” mereka menjawab : “Demi Allah, andaikan binatang itu masih hidup, itu pun cacat apalagi ia sudah menjadi bangkai.” Beliau lalu bersabda ” Demi Allah, dunia itu lebih hina dalam pandangan Allah, melebihi hinanya bangkai ini menurut pandanganmu.” (HR. Muslim)

Saudaraku yang sama-sama mengharap ridho Allah subhanahu wa Ta’ala.  Dunia ini hina dan telah Allah hinakan , tapi mengapa Allah kirim kita di dunia ini? Apakah untuk menikmati kehinaan? Bukan saudaraku, kita di dunia ini sedang di uji oleh Allah Subhanahu wa ta’ala bagaimana perlakuan kita terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Rasul-Nya di dunia ini.

” Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur.  Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu”. QS.Al hadid (57):20

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman dalam Al Quran

“.. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran”.  QS. Albaqarah (2) :221

Saudara yang dimuliakan Allah Subhanahu wa Ta’ala Skenario hidup kita adalah :

Dulu kita tidak ada, lalu dilahirkan ke dunia ini, nanti kita akan mati. ini pasti saudaraku.

Dunia ini dulu tidak ada, lalu diadakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kita ada karena diadakan Allah Subhanahu wa Ta’ala, diadakan untuk beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Yang membedakan kita dengan umat-umat nabi sebelumnya adalah Kita dilahirkan sebagai Umat Nabi Muhammad Shallallahu’alayhi wa sallam Nabi yang terakhir, oleh karena itu tugas para Anbiya dan para Rasul telah dilimpahkan kepada setiap individu yang mengaku sebagai umat nabi Muhammad Shllallahu’alayhi wa sallam, inilah ibadah kita yang paling mencocoki dan bersesuaian dengan kehendak Allah Subhanahu wa ta’ala yakni mengajak kepada Surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Kakek Buyut kita nabi Adam Alayhissalam dulu adalah penduduk Surga, maka bagaimana usaha kita kini untuk menjadi ahli surga lagi seperti yang di kehendaki Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Allah menyeru (manusia) ke Darussalam (surga), dan menunjuki orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus (Islam).”  Qs. Yusnus (10):25.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka; di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”. QS Ali Imran (3) :110.

Kita adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia untuk tugas amar ma’ruf nahi munkar, Kita musti ingat bahwa itu tugas utama kita, dan itu pulalah yang menjadi maksud hidup nabi-nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ingatlah saudaraku kehidupan kita di dunia ini sangat – sangat sementara, janganlah keduniaan kita melenakan kita dari perintah perintah-Nya.

Jadilah bagian dari orang yang mengingatkan tentang pentingnya iman dan amal sholeh.

Marilah sama-sama kita berdo’a supaya Allah menjadikan kita orang-orang yang di kehendaki-Nya untuk mendapat petunjuk-Nya . Amin Yaa Rabbal ‘Alamin..

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” QS. Yunus (10): Ayat 9

“Tidak ada sesuatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan izin Allah; Dan barang siapa yang beriman kepada Allah, niscaya Dia akan memberi petunjuk kepada hatinya. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” QS At-Taghabun (64) Ayat 11:

Posted in Budaya, News, Religi | Leave a comment

Fadhilah Ta’lim Rumah

Sebentar lagi kita akan mengadakan ijtima’ kaum muslimin di 5 kawasan di Indonesia, dan kita perlu menyampaikan pentingnya perkara ijtima’ dan harapan para masyaikh dengan diadakannya ijtima’ tersebut. Ijtima’ adalah pertemuan 2 kerja, yaitu kerja sebelum ijtima’ dan kerja sesudah ijtima’. Harapan / target diadakannya ijtima tersebut diantaranya :

  1. Bagaimana setiap masjid hidup amalan agama ( dakwah illallah , taklim wa taklum, dzikir ibadah , khidmad )
  2. Bagaimana setiap rumah-rumah umat islam hidup suasana agama.
  3. Bagaimana setiap individu-individu umat islam mengamalkan agama secara sempurna.

Untuk poin 1 dan 3 insya Allah dapat dicapai dengan cara di keluarkannya rombongan-rombongan untuk mendakwahkan agama baik jamaah Rizal ( laki-laki ) maupun masturah ( laki-laki bersama wanita ). Sedangkan untuk poin 2  dapat di capai dengan cara menghidupkan taklim rumah.

Menghidupkan taklim rumah secara istiqomah merupakan perkaran yang harus dilakukan oleh seluruh umat islam tanpa kecuali baik bagi yang  sudah mengenal usaha agama maupun belum , karena barang siapa yang menghidupkan taklim rumah maka berarti orang tersebut siap untuk didatangi agama, karena talim rumah adalah pintu masuknya agama ke dalam rumah, kalau pintunya tidak pernah dibuka bagaimana keluarga kita mau paham agama.

Taklim rumah merupakan perkara penting karena taklim rumah merupakan pertemuan dua kerja maqomi baik maqomi rizal maupun masturah. untuk perkara apa saja maqomi rizal dan masturah saya rasa kita semua sudah teramat mengerti poin-poinnya walau terkadang belum sempurna mengamalkannya.

Orang tua kita dalam dakwah sangat menekankan perkara dihidupkannya taklim rumah. Walaupun suaminya hafiz Al Qur’an, alim, selalu sambut takazah, pintar dalam bayan dan memberikan mudzakarah tapi taklim dirumahnya tidak hidup maka pada hakekatnya dia sedang menggiring anak dan istrinya ke pintu neraka.

Karena setiap kita mempunyai tanggung jawab yang besar untuk bagaimana membawa seluruh ahli keluarga kita kedepan pintu surga-Nya, dan hal itu bisa didapat dengan cara kita mengajarkan keluarga kita tentang agama, dengan jalan menghidupkan taklim rumah secara istiqomah.

Kalau hanya diri kita saja yang paham agama, dan kita tak pernah buat taklim rumah untuk mengajarkan agama kepada keluarga kita , maka jangan harap agama akan hidup di tengah keluarga kita selepas kita meninggal dunia, bahkan  bisa jadi selepas meninggalnya kita anak dan keluarga kita menjadi orang-orang yang jauh dari agama asbab semasa hidupnya kita tak pernah membuat taklim rumah secara istiqomah.

Para sahabat nabi sangat paham untuk perkara yang satu ini, mereka setiap mendapatkan satu ilmu dari Rasullah saw mereka menceritakan apa yang di dapat dari Rasulullah saw kepada para istri dan anaknya, sehingga istri dan anak-anak bisa menjadi alim dan alimah.

Manfaat dari taklim di rumah:

1. Allah swt akan memberikan rahmat,sakinah dan keberkahan pada ahli rumah/keluarga.

2. Akan wujud suasana agama di rumah.

3. Ahli keluarga akan tahu nilai-nilai ahirat dan amalan agama.

4. Mengeluarkan kebesaran MAAL(harta) dan memasukkan kebesaran AMAL shalih dalam hati.

5. Akan dapat keyakinan bahwa amal Rasul dapat menyelesaikan masalah kita di dunia dan diakhirat.

6. Rumah kita akan di penuhi nur yang cahayanya sampai ke langit.

7. Malaikat akan masuk dan syaitan-syaitan akan keluar dari rumah.

8. Akan menghancurkan 40 majelis maksiat.

9. Akan di jauhkan dari fitnah dajjal.

Kerugian apabila tidak menghidupkan taklim di rumah

1. Beramal ikut nafsu,

2. Ahli keluarga tidak mengetahui nilai-nilai akhirat karena di dalam rumah tidak ada mudzakarah tentang iman dan amal shalih.

3. Di rumah banyak syaitan,karena suara musik lebih sering terdengar dari pada bacaan-bacaan ayat suci Al-qur’an,gambar-gambar dan patung banyak di simpan di dalam rumah

4. Maksiat merajalela,antar anggota keluarga menjadi kurang rukun,sering terjadi pertengkaran

Itu semua akan terjadi karena rumah yang tidak hidup amalan agama dan taklim di rumah maka ahli keluarga tidak akan tahu pentingnya amalan agama.

Cara membuat taklim rumah:

1. Di rumah hendaklah kita memiliki kitab atau buku ta’lim (seperti:fadhilah amal), jika tidak ada bisa menggunakan terjemahan Alqur’an atau buku-buku agama yang di dalam nya terkandung firman Allah dan sabda Nabi(hadits). Menurut ‘alim ulama sebaik-baiknya harta yang di simpan di rumah adalh Al Qur’an dan buku ta’lim (fadhilah amal).

2. Waktu ta’lim di tetapkan, pilih waktu dimana seluruh anggota keluarga berkumpul.

3. Tempat ta’lim ditentukan istiqomah satu tempat saja dan dikondisikan sebagaimana suasana masjid (bebas dari perabot mewah/patung/gambar makhluk)

4. Baca ta’lim dengan istiqomah setiap hari satu kali.

5. Baca ta’lim secara bergiliran setiap hari mulai bapak/suami,ibu/istri,anak-anak,dst.

6. Baca buku ta’lim secara berurutan,setelah dibaca di tandai dan dilanjutkan kembali besoknya.

7. Semua fadhilah di baca,diutamakan baca fadhilah shalat dan kisah sahabat.

8. Sekali-kali diterangkan adab-adab ta’lim sebelum ta’lim dimulai.

9. Selain ta’lim dengan membaca kitab,taklim rumah di isi dengan mudzakarah sifat-sifat sahabat,halaqah tajwid Qur’an,masa’il,muzakarah wanita,dst.

10. Waktu taklim sekurang-kurangnya 30 menit.

11. Selesai ta’lim ditutup dengan doa kifarah majelis: “Subnallakallahumma wabihamdika asyhaduan lailaha illa anta astaghfiruka wa atubu ilaik”

Insya Allah kita semua niat untuk menghidupkan taklim rumah secara istiqomah.

Posted in Budaya, Our Knowledge, Religi | Leave a comment