Ketika Sholat Telah Kita Tinggalkan

Sesungguhnya shalat diwajibkan 5 kali dalam sehari, yaitu 17 rakaat, diwajibkan oleh Allah SWT atas setiap laki-laki Islam, baligh dan berakal (sehat) dan atas perempuan Islam, balighah dan berakal sehat, serta tidak sedang sedang haid dan nifas. Sesungguhnya kewajiban tidak gugur dari mukallaf, kecuali ia telah meninggal dunia. Demikian menurut para Imam madzab, kecuali Hanafi. Imam Hanafi berpendapat: Apabila seseorang sudah tidak mampu memberi isyarat dengan kepalanya maka gugurlah kewajiban shalat darinya.

Dan kewajiban tersebut telah tercantum dalam Al-Quran, As-Sunnah serta Ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin.

1. Dari Al-Qur’an antara lain :
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang luput jauh dar syirik (mempersekutukan Allah) dan jauh dari kesesatan, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan yang demikian itulah agama yang lurus “. (Q.S. Al- Bayyinah : 5)

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman :
“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman”. (Q.S. An-Nisaa :103).

2. Dari As-Sunnah
Shalat termasuk rukun Islam yang tersebut dalam hadist Ibnu Umar r.a dari Rasulullah saw. Beliau bersabda :
“Islam dibangun di atas 5 perkara yaitu syahadat ‘laa ilaaha illallah’ dan ‘Muhammadan Rasulullah’, menegakkan shala,t menunaikan zakat, haji dan puasa Ramadhan.”

Nabi Muhammad saw bersabda kepada Mu’adz r.a saat mengutus ke negeri Yaman untuk mendakwahkan Islam kepada ahlul kitab yang ditinggal di negeri tersebut :
“Ajarkanlah kepada mereka bahwa Allah memfardhukan kepada mereka 5 shalat dalam sehari semalam”.

Rasulullah SAW dalam hadistnya yang lain juga menyatakan :
“Pokok dari perkara ini adalah Islam, tiang adalah shalat dan puncaknya adalah jhad fi sabililah.”

3. Dari Sisi Ijma’ (kesepakatan) Umat
Kesepakatan akan kewajiban shalat 5 waktu sehari semalam tidak ada seorangpun yang menentang kewajiban, sampai-sampai ahlul bid’ah pun mengakui kewajibannya.

Ulama sepakat bila orang yang meninggalkan shalat tersebut tidak meyakini kewajiban shalat maka orang tersebut dinyatakan kafir menurut nash. Dalil yang ada dan ijma”. Namun bila meninggalkan karena malas maka ada perbedaan pendapat dalam hal ini sebagaimana yang dikatakan Al-Imam An Nawawi berkata “Orang yang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajiban maka orang itu kafir. Menurut kesepakaan kaum muslimin, ia keluar dari Islam kecuali jika orang itu baru masuk Islam dan tidak berkumpul dengan kaum muslimin sesaatpun yang memungkinkan sampai berita tentang wajib shalat pada masa tersebut. Bila meninggalkan shalat karena malas-malasan sementara ia meyakini akan kewajiban sebagaimana keadaan kebanyakan manusia mereka tidak mengerjakan shalat karena malas padahal tahu hukum shalat tersebut, maka ulama berbeda pendapat dalam masalah ini.

Adapun 2 pendapat besar di kalangan ulama :

1.      Meninggalkan shalat karena malas adalah kekafiran (besar) yang mengeluarkan dari agama. Ini adalah pendapat Imam Ahmad, Said bin Jubair, Asy-Sya’bi, Imam Syafi’I, Abu Bakar bin Abi Syaibah, An-Nakhai,Ibnu Al-Mubarak, Al-Hakam bin Utaibah, Ishaq bin Rahawaih. Dan ini merupakan pendapat sebagian besar sahabat Nabi.

Demikian juga pendapat yang dianut para ulama sejak zaman Nabi sampai sekarang, bahwa orang yang sengaja meninggalkan shalat tanpa ada suatu halangan hingga keluar waktunya adalah kafir.”

2.      Meninggalkan shalat karena malas-malasan adalah kekafiran asghar (kecil) yang tidak mengeluarkan dari agama, ini pendapat dari Al-Hanafiah, Imam Malik, Ats-Tsauri, Asy-Syafii, salah satu pendapat Imam Ahmad dan merupakan pendapat mayoritas ulama.

Pendapat yang paling tepat adalah yang pertama dan inilah pendapat yang dikuatkan oleh Imam Ibnu Mandah, Ibnu Baththah, Ibnu Hajar Al-Haitami dan Ibnu Al-Qayyim. Dan dari kalangan Masyayikh belakangan seperti: Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di, Ibnu Baz, Ibnu Al-Utsaimin dan Muqbil bin Hadi.

Dari keterangan di atas sudah jelas bagi kita semua bahwa anak yang sudah baligh meninggalkan shalat, karena malas mengerjakannya padahal dia tahu kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan adalah berdosa. Karena itulah kita jangan sekali-kali meninggalkan sholat, status ibadah yang merupakan penghubung antara seseorang dengan rabbnya. Rasulullah sendiri menerima kewajiban ibadah ini langsung dari Allah swt. tanpa perantara pada malam Mi’raj Sidratul Muntaha di langit ketujuh sekitar 3 tahun sebelum hijrah ke Madinah.

Untuk memotivasi kita agar kita selalu semangat dalam melaksanakan sholat 5 waktu, Ibnul Qoyyim menyatakan bahwa shalat adalah pencegah dosa, penolak berbagai penyakit hati, pengusir penyakit fisik, membuat hati bercahaya, pencerah wajah, penyemangat bagi anggota badan dan jiwa, pendatang rezki, penolak kedzaliman, pertolongan bagi orang yang didzalimi, penghancur debu-debu syahwat, penjaga nikmat, penolak bala’ (bahaya), penyebab turunnya rahmat, penyebab hilangnya kesedihan, menjaga kesehatan, membuat hati gembira, pengusir kemalasan, penghimpun kekuatan, membuat dada menjadi lapang, menjadi gizi bagi ruh, mendatangkan berkah, menjauhkan syetan, dan mendekatkan seseorang kepada Allah SWT.

Selain itu dari pakar kesehatan tentang manfaat sholat, antara lain :

a)      Shalat termasuk sarana efektif untuk menjaga dari penyakit varises yang dipicu oleh sebab tertentu sehingga terjadi penyusutan tekanan darah pada dinding-dinding urat di betis bagian luar. Shalat dapat mengaktifkan kembali tekanan pada urat-urat luar dan menguatkan dinding urat-urat yang lemah. (menurut Dr. Taufik Ulwan (anggota Bagian Bedah Umum Fakultas Kedokteran Universitas Iskandaryah, Mesir).

b)      Semua gerakan shalat dapat membantu melenturkan sendi-sendi tulang dan mengurangi tingkat kebekuannya pada orang-orang yang terkena penyakit rheumatik dan secara khusus berguna bagi orang yang mengalami pengeringan tulang belakang (menurut Ilmuwan Amerika).

c)      Ketenangan jiwa yang dihasilkan dari shalat memberikan efek kepada sistem pertahanan tubuh, sehingga bisa mempercepaat kesembuhan, khususnya pada penyakit-penyakit imunitas yang dipicu oleh terserangnya sel-sel kekebalan tubuh, seperti infeksi, persendian, reumatik dan wabah lupus.

Dan masih banyak lagi manfaat shalat, yang jika kita kaji tidak akan habis. Jika shalat kita bagus, maka seluruh amalan kita juga bagus dan jika shalat kita jelek, maka seluruh amalan kita jelek. Semoga Allah menjadikan kita semua termasuk hamba-hamba-Nya yang tetap mendirikan shalat.

About Mariana City

What Do You Need, I Present To You
This entry was posted in Budaya, Our Knowledge, Religi. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s