Banyuasin Daerah Tertinggal

BANYUASIN – Proses pembangunan selama 8 tahun yang dilakukan Pemkab Banyuasin dan meningkatnya Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang saat ini mencapai Rp 830 miliar, belum mampu menggeser “Bumi Sedulang Setudung” ini lepas dari kategori daerah tertinggal.

Terbukti, berdasarkan penilaian yang dikeluarkan Kementerian Percepatan Daerah Tertinggal, Kabupaten Banyuasin masuk salah satu dari enam daerah di Sumsel, sebagai daerah tertinggal. Enam daerah tertinggal versi Kementerian PDT yakni, Kabupaten OKI, Ogan Ilir (OI), Banyuasin, Musi Rawas (Mura), Lahat, dan OKU Selatan.

Kategori kabupaten tertinggal ini muncul setelah dilakukan beberapa penilaian, antara lain pendapatan per kapita penduduk rendah, infrastruktur buruk, minimnya Sumber Daya Manusia (SDM) yang berakibat lambannya pertumbuhan daerah terebut. Secara nasional (di Indonesia), daerah yang dinyatakan tertinggal 183 kabupaten.

“Penilaian seperti ini kan sudah lama, saya rasa apa yang menjadi pokok penilaian mereka ini ditinjau tidak secara menyeluruh. Kalau memang tertinggal, parameter mereka melihatnya dari mana. Hendaknya ada kriteria jelas terkait tertinggal dan kabupaten maju,” tegas Wakil Bupati Banyuasin, Drs A Rachman Hasan yang dihubungi Sripo, Senin (4/10).

Rachman meminta agar pemerintah pusat dan pemerintah provinsi lebih objektif dalam memberikan penilaian. Tetapi meskipun demikian, sebagai pemerintah pihaknya hanya mampu menerima hal ini, sebab menurut dia penilaian ini bisa diambil hikmahnya. Dengan dinilai sebagai kabupaten tertinggal, akan ada banyak bantuan yang datang dan hal ini akan menjadi pemicu pembangunan di wilayah Kabupaten Banyuasin.

“Tetap menjadi pertanyaan kita, yang dikatakan tertinggal itu dimana lokasinya, sebab sebagian besar kabupaten di Sumsel ini banyak yang lebih tertinggal dari Banyuasin. Tetapi ternyata tidak masuk dalam kategori tersebut, sebab penilaiannya hanya sebatas perkotaannya saja. Sementara wilayah Banyuasin ini mayoritas adalah perairan, mereka hanya menilai yang disana, sementara banyak sudut Banyuasin ini yang maju,” urai Rachman seraya meminta pemerintah melakukan penilaian yang objektif.

Sementara itu Sekda Banyuasin, H Parigan MM menyebutkan, penilai Banyuasin sebagai daerah tertinggal lebih dikarenakan penilaian hanya dilakukan di kawasan peraiaran, yang memang infrastrukturnya masih dalam proses pembangunan. “Mereka hanya menilai dari satu wilayah, bukan Banyuasin secara keseluruhan,” katanya.

Seharusnya, tambah Parigan, penilaian dilakukan secara objektif dengan memperhatikan sejumlah pembangunan yang telah dilakukan Pemkab Banyuasin selama kurun waktu delapan tahun ini. “Banyuasin ini terdiri dari 15 kecamatan dengan 288 desa. Jadi, kalau dinilai hanya lima kecamatan tentu penilaiannya akan seperti itu,” katanya.

About these ads

About Mariana City

What Do You Need, I Present To You
This entry was posted in News. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s