Sejarah Candi Muara Takus

  1. LETAK GEOGRAFIS GUGUSAN CANDI MUARA TAKUS

Letak desa Muara Takus

Desa Muara Takus terletak didalam wilayah Kecamatan XIII Koto Kampar, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau – Indonesia. Jarak tempuh dari Pekanbaru ( Ibukota Provinsi Riau ) menuju kedesa tersebut sekitar 128 KM. Perjalanan menuju desa Muara Takus, hanya dapat dilakukan melalui jalan darat.

Asal nama Muara Takus

Muara takus berasal dari nama sebuah anak sungai kecil bernama “takus” yang bermuara ke batang Kampar kanan. Menurut salah seorang duta besar Singapore untuk

Indonesia, yang telah berkunjung ke muara takus pada tahun 1977, mengatakan bahwa muara takus berasal dari dua kata “ muara “ dan “ takus “ .

Lebih lanjut dia mengatakan, “muara” pengertiannya sudah jelas yaitu suatu tempat dimana anak sungai mengakhiri alirannya ke laut atau ke sungai yang lebih besar, sedangkan kata “takus” berasal dari bahasa China yaitu ta, ku dan se. Ta berarti besar, ku berarti tua sedangkan se berari candi. Jadi kalau kita gabungkan arti keseluruhan dari kata Muara Takus adalah : candi tua ( the old temple ) besar / megah yang terletak di muara sungai.

Letak Gugusan Candi Muara Takus

Gugusan candi Muara Takus terletak di garis khatulistiwa 0.021 lintang utara dan 100.039 bujur timur. Dikelilingi oleh tembok yang terbuat dari batu putih, yang berukuran 74 m X 74 m, dan terletak dipinggir jalan yang menghubungkan antara desa Muara Takus tersebut dengan desa Tanjung Kecamatan XIII Koto Kampar.

Digugusan ini terdapat beberapa candi sebagai berikut :

1. Candi Mahligai

2. Candi Palangka

3. Candi Bungsu

4. Candi Tua

5. Bangunan I

6. Bangunan II

Menurut para ahli, jumlah keseluruhan candi tersebut sebanyak 7 (tujuh) gugusan. Jadi masih ada tiga candi yang belum ditemukan bangunannya. Bangunan I (satu)

diperkirakan tempat pembakaran mayat dan Bangunan II (dua) diperkirakan bangunan candi yang belum diketahui nama dan bentuknya.

  1. LATAR BELAKANG SEJARAH GUGUSAN CANDI MUARA TAKUS

1. Penemuan

Gugusan candi Muara Takus pertama kali ditemukan oleh Cornet De Groot pada tahun 1860, hasil penemuannya dituangkan dalam sebuah tulisan yang berjudul “ Koto Candi “.

2. Penelitian

  1. W.P. GROENEVELD

Pada tahun 1880, seorang berkebangsaan Belanda yang bernama diatas mengadakan penelitian terhadap gugusan candi Muara Takus. Hasil penelitian tersebut merupakan kunci dari tulisan singkat Verbeek dan Van Delden.

  1. R.D.M VERBEEK DAN E.TH. VAN DELDEN

Kemudian pada tahun 1880 Verbeek dan Van Delden berdasarkan hasil tulisan W.P Groeneveld mengatakan bahwa bangunan purbakala tersebut adalah bangunan Budha yang terdiri dari Biara dan beberapa candi.

Pada tahun 1881 Verbeek dan Van Delden menulis pendapatnya tentang keberadaan candi Muara Takus dengan judul “ De Hindoe Ruinen Bij Moeara Takus Aan De Kampar Rivier “ .

  1. J.W IZERMAN

Pada tahun 1889, J.W Izerman melakukan pengukuran sebagai juru photo, pada waktu mereka sampai dikompleks candi tersebut yang dapat dilihat adalah :

Stupa ( Candi Mahligai )

Stupa (candi Mahligai) merupakan bangunan yang masih baik sehingga dapat digambar menurut keadaan seben

arnya, namun ada bagian-bagian dari bangunan yang telah rusak. Dibagian puncak menara terdapat batu dengan lukisan daun oval dan relief.

Teras tinggi, didebelah timur Stupa ( Candi Palangka )

Candi Bungsu dengan teras mempunyai batas antara batu bata dan batu pasir.

Candi Tua

  1. DR. F.M SCHNITGER

Pada tahun 1935 ia melakukan penggalian terhadap pondasi, pintu gerbang dinding sebelah utara, pondasi bangunan I, Pondasi Bangunan II dan Candi Tua. Pada Candi Bungsu yang terletak disebelah barat candi Mahligai pernah ditemukan batu bata yang berbentuk LOTUS. Didalamnya terdapat abu dan lempengan emas yang bercampur tanah. Di lempengan emas tersebut terdapat gambar TRISULA dan tulisan yang berbentuk huruf nagari . Menurut SCHNITGER teras candi Bungsu, candi Tua bagian dalam, candi Palangka bangunan I dan II berasal dari abad XI, sedangkan candi Mahligai dan candi Tua pada abad XII ( 1936 ). Di bagian puncak menara candi Mahligai dihiasi dengan empat ekor arca singa pada tiap-tiap sudutnya. Sedangkan pada teras candi Bungsu terdapat diatasnya 20 buah stupa kecil dan wajra-wajra yang bertuliskan tiga atau sembilan huruf.

  1. BEN BRONSON dan Lembaga Purbakala & Peninggalan Nasional Jakarta (1973 )

Mereka melakukan penggalian dan penelitian pada pagar keliling gugusan candi Muara Takus dan sekitarnya. Dari hasil penggalian ditemukan keramik, yang umumnya lebih tua dari masa Dinasty Yuan Ming dan Ching yaitu antara abad XIII dan XIX. Hasil penggalian selanjutnya ditemukan pula sisa-sisa bangunan dari bata yang yang terdapat diluar komplek. Kemudian ditemukan juga Pragmen yang terbuat dari perunggu dengan tulisan Nagari yang berasal dari abad XII yang dapat dihubungkan dengan masa Pemerintahan Raja Karta Negara dengan ekspedisi pamaiayunya.

  1. N.J KROM

Memperkirakan bangunan ini berasal dari abad VII M atau se zaman dengan prasasti VIENGSA di CHINA ( BOSCH 1930.149 )

  1. BERNET KEMPRES

Mengatakan bahwa Stupa candi Mahligai yang bentuknya seperti sebuah menara, berbeda bentuknya dengan stupa yang ada di Indonesia walaupun masih mengikuti Arsitektur BUDHA.

  1. IR.J.L MOENS

Berpendapat bahwa pusat kadatuan Sriwijaya berada di gugusan candi Muara Takus, karena Muara Takus dekat dengan pertemuan dua sungai yaitu Sungai Kampar Kanan dan Batang Mahat. Dan bayang-bayang di Walacakra yang tidak panjang dan pendek pada pertengahan bulan delapan, pada tengah hari bayang-bayang orang sama sekali tidak ada, ini pertanda bahwa daerah ini berada pada garis khatulistiwa.

  1. BOSCH

Mengatakan keberatnnya, bahwa Palembanglah sebagai pusat kadatuan Sriwijaya

  1. Pusat Penelitian Peninggalan Purbakala Nasional

Pada tahun 1977 pusat penelitian purbakala nasional dan bidang permuseuman sejarah dan kepurbakalaan Kanwil Depdikbud Provinsi Riau, mengadakan penelitian terhadap gugusan candi Muara Takus. Salah satu penelitian itu mengatakan, bahwa bangunan candi tersebut dari Batu Bata dan Batuan Pasir ( tuff ). Hasil penelitian lainnya menyimpulkan bahwa bangunan ini adalah bangunan suci agama Budha yang diperkirakan mempunyai kaitan yang erat dengan kadatuan Sriwijaya.

PUSAT KADATUAN SRIWIJAYA

Gugusan candi Muara Takus selalu dikaitkan dengan kedatuan Sriwijaya. Karena bentuk bangunan dengan puncak stupanya sebagai lambang Buddhistis. Menurut sejarah, kadatuan Sriwijaya adalah suatu negara maritim yang ibukotanya selalu berpindah-pindah.

Gugusan candi Muara Takus merupakan peninggalan kuno yang bersifat Budha ( CLAIRE HOLT 1967 ; 37 ) hal ini erat hubungannya dengan pencarian ibu kota Sriwijaya yang sampai saat ini belum dapat diketahui secara pasti. Mengenai Muara Takus sebagai pusat kadatuan Sriwijaya, para ahli purbakala banyak mengemukakan pendapat atau pendirian mereka diantaranya ada yang mengatakan bahwa Muara Takus itulah pusat kedatuan Sriwijaya sedangkan lainnya menyatakan bukan. Masing-masing mereka mengemukakan pendapatnya dengan alasan-alasan yang kuat.

Berikut dikemukakan pendapat para ahli :

¨ I-TSING. Pada abad VII ( tahun 671 M ) seorang berkebangsaan China mengadakan perjalanan ke India untuk belajar agama Budha dan tinggal disini ( Muara Takus ) selama 6 bulan. Ibukotanya dikelilingi benteng dan di diami oleh lebih dari 1000 Bhiksu. Menurut I-TSING pada bulan ke delapan bayangan tongkat di Wala Cakra tidak menjadi lebih panjang atau pendek, dan pada tengah hari orang berdiri tanpa bayangan. Pernyataan I-TSING diatas cocok dengan keadaan candi Muara Takus yang terletak di garis khatulistiwa.

¨ CHIA-TAN,. Menurut Chia-tan disebelah utara Selat Malaka terletak kerajaan LO YOUEH, yakni langka suka, disebelah selatan selat malaka terletak kerajaan SHIH-LI-FO-SHEH, yang diperkirakan itulah kedatuan Sriwijaya. Karena Muara Takus itu memang terletak di selatan Selat Malaka.

CERITA-CERITA RAKYAT

i. Kerajaan di Muara Takus

Menurut Shahibul Hikayat, penduduk hulu sungai Kampar berasal dari keturunan putri Sri Dunia yang datang dengan keluarganya dari Pariangan Padang Panjang. Konon seorang raja Hindu meminang putri Sri Dunia dan setelah menikah dia kemudian mendirikan sebuah kerajaan di Muara Takus, yang keturunannya dapat ditemukan dsini ( Muara Takus ).

Pada suatu hari, raja Hindu tersebut kembali ke negerinya, saat itu datang segerombolan orang batak yang juga menganut agama Hindu, tetapi kota kerajaan ini telah ditinggalkan.

Putri Sri Dunia rupanya telah kawin dengan seorang datuk anak laki-laki yang diberi nama Induk Dunia, yang kemudian hari menjadi raja di Muara Takus keturunannya adalah RAJA PAMUNCAK DATUK DUBALAI. Raja terakhir di Muara Takus adalah RAJA BICAU. Konon kota Muara Takus sangat luas sehingga kalau seekor kucing berjalan menjelajahi kota dari atap keatap rumah memerlukan waktu selama tiga bulan baru sampai kembali ketempat semula.

ii. Desa Pongkai

Pongkai adalah sebuah nama desa yang terletak disebelah hilir batang Kampar lebih kurang 8 km dari desa Muara Takus. Menurut cerita rakyat tempatan batu bata yang digunakan untuk membangun candi yang ada di Muara Takus tersebut, dibuat didesa Pongkai ini.

Pongkai berasal dari bahasa China, yang terdiri dari dua kata “pong” yang artinya lobang, dan “kai” yang berarti tanah. Jadi arti keseluruhannya adalah lubang tanah.

Tempat pembuatan batu bata tersebut dapat disaksikan didaerah pongkai berupa lobang tanah yang luas tempat pengambilan tanahnya untuk dijadikan batu bata. Batu bata itu setelah dibuat di desa Pongkai, pada awalnya dibawa melalui sungai ke Muara Takus. Karena mengangkut melalui sungai tersebut dirasakan sangat berat maka cara pengangkutannya dirubah dengan memakai tenaga manusia yang dibariskan mulai dari desa Pongkai sampai ketempat pembangunan candi di Muara Takus. Jadi batu bata itu diangkut secara berantai yang memerlukan tenaga manusia yang banyak, mengingat jaraknya 8 km.

iii. Arsitek Bangunan

Arsitek pembangunan candi Muara Takus dapat dikatakan bersifat Budha. Hal ini dapat dilihat dengan adanya “stupa”, yang merupakan lambang Budha Gautama. Tetapi kalau dilihat pula kepada bentuk candi Mahligai, dapat dianggap sebagai masa peralihan antara ciwaitis ke buddha, dengan adanya lambang Pallus dan Yoni. Dilihat dari jauh bentuknya persis seperti menara.

Arsitektur pembangunan candi Muara Takus ada persamaannya dengan arsitektur bangunan candi Aloha di India, seperti pada :

¨ Kapital

¨ Roda

¨ Kepala Singa

Juga ada persamaan arsitekturnya dengan candi yang ada di Myanmar ( Birma ). Demikian juga dengan candi Bihar Mahal di Sumatera Utara dan teras-teras atas candi Muara Takus ini mirip dengan candi Borobudur.

Dengan demikian peninggalan sejarah dan purbakala ini perlu diteliti sampai benar-benar terungkapkan tentang sejarah dan latar belakang berdirinya secara objektif.

Gugusan candi Muara Takus tersebut terdiri dari :

Ø Candi Mahligai, Bangunan ini berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 10.44 m X 10.60 m, tingginya sampai ke puncak 14.30 m. Berdiri diatas pondamen bersegi delapan ( astokoma ) dan bersisikan sebanyak 28 buah. Pada alasnya terdapat teratai berganda pada tahun 1860 M sewaktu Cornet De Groot berkunjung ke sana, pada setiap sisi dijumpai patung singa dalam posisi duduk.

Ø Candi Bungsu, Pemugaran candi Bungsu ini dimulai pada tahun 1988 dan selesai pada tahun 1990. Ukuran 7.50 m X 16.28 m dan tingginya setelah di pugar 6.20 m dari permukaan tanah, dan volumenya 365.80 m3 .

Ø Candi Palangka, Candi Palangka mulai dipugar pada tahun 1987 dan selesai pada tahun 1989.

Ø Candi Tua, Candi ini merupakan candi yang terbesar diantara candi-candi yang ada, candi ini mempunyai sisi 36 buah. Dan dipugar pada tahun 1990.

Secara rinci gugusan candi Muara Takus adalah sebagai berikut :

· Candi Mahligai

· Candi Palangka

· Candi Bungsu

· Candi Tua

· Bangunan I ( tempat pembakaran mayat )

· Bangunan II

· Bangunan III

· Bangunan IV tanggul kuno

About these ads

About Mariana City

What Do You Need, I Present To You
This entry was posted in History. Bookmark the permalink.